Depan Profil Deskripsi Singkat

Deskripsi Singkat

SEJARAH SINGKAT DESA KOREAK

Alkisah menurut cerita para sesepuh/inohong Desa Koreak, konon awalnya  dulu ada 2 (dua) orang  bersaudara kakak beradik  keturunan dari Kerajaan Majapahit.Kakaknya seorang ksatria bernama Pangeran Kebo Gadung dan adiknya seorang putri bernama Sang Reatu Gadang. Pada waktu itu mereka masih memeluk agama Hong ( Hindu ) . atas restu kedua orang tuanya mereka pergi mengembara mencari pengalaman dan pengetahuan terutama sekali ingin mencari ilmu pengetahuan tentang agama yang baru tersebar yaitu Agama Islam yang pertama-tama akan mereka tuju adalah tanah  Jawa  yaitu Cirebon. Ketika tengah melakukan pengembaraan di pertengahan jalan mereka bertemu dengan seorang putri keturunan dari Kadipaten Blambangan yang bernama Sang Ratu Ayu Dewi Rachmat yang mana secara kebetulan maksud dan tujuan putri itu sama dengan mereka. Maka setelah masing-masing memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud masing-masing. Maka berangkatlah mereka bersama-sama untuk  melanjutkan perjalanan ke tanah jawa. Setelah beberapa hari menempuh perjalanan masuk keluar hutan belantara. Naik turun bukit dan menyusuri sungai akhirnya sampailah mereka di perbatasan  jawa barat dan yang pertama-tama terlihat oleh mereka  dari kejauhan adalah Sebuah Bukit  menjulang yang indah dipandang mata. Maka timbulah keinginan di hati mereka untuk singgah ke bukit tersebut dan ketika mereka sampai disana . mereka merasa takjub dengan indahnya bukit tersebut apalagi ketika mereka memandang sekelilingnya. dari puncak bukit tersebut terlihat dibawahnya jalan yang berliku. Sawah yang terhampar luas Tegalan dan laut kelihatan terbentang luas. Begitu indah dipandang mata. Mereka semakin takjub dan terkejut ketika mereka melihat di puncak bukit itu ada sebuah gubug kecil  beratapkan alang-alang dan setelah didekati ternyata gubug itu berpenghuni dan penghuninya adalah dua orang kakak beradik  yang mana kakaknya seorang laki-laki yang sudah berusia lanjut bernama Rama Buyut Dalem Tapa dan adiknya seorang perempuan yang masih muda bernama Sang Ratu Tawang dan singkat cerita merekapun berkenalan. Kakak beradik itu ternyata berasal dari Gunung Jati yang tengah mengemban tugas untuk menyebarkan agama islam dan selanjutnya Pangeran Kebo Gadung. Sang ratu Gadang dan Sang Ayu Dewi Rachmat menetap disana. Setelah beberapa waktu mereka tinggal disana . mereka banyak mendapat pelajaran dari Rama Buyut Dalem Tapa tentang Agama Islam yang mengajarkan peraturan-peraturan Agama Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist Nabi.

Selang beberapa bulan kemudian. Dihati Pangeran Kebo Gadung timbul rasa ingin mencoba/mengetahui sampai sejauh mana kemampuan ilmu yang dimiliki oleh gurunya (Rama Buyut Dalem Tapa).

Kebetulan Pangeran Kebo Gadung mempunyai senjata sakti berupa Keris Pusaka yang diberi nama Nagaraja yang sangat ampuh kesaktiannya. Jangankan ditusukan baru dibawa ketempat musuhpun . musuh tidak akan kuat merasakan panas yang dipancarkan oleh keris tersebut bila sudah dibacakan mantera oleh pemiliknya.

Dengan keampuhan keris tersebut pulalah Pangeran Kebo Gadung akan mencoba ilmu kesaktian gurunya . sebenarnya Rama Buyut Dalem Tapa sudah mengetahui maksud dari muridnya yang ingin mencoba ilmu kesaktiannya. Maka keluarlah beliau dari pondoknya dan duduk diluar dengan tenangnya.

Saat itulah Pangeran Kebo Gadung menghampiri gurunya dan duduk dihadapan gurunya dengan rasa hormat. Kemudian Pangeran Kebo Gadung menyodorkan keris saktinya yang telah dibacakan mantera-mantera olehnya kepada gurunya. Dengan tenangnya Rama Buyut Dalem Tapa menerima keris itu sambil dipegang dan dilihat-lihat lalu beliau berkata “ Keris ini memang bagus berukir dan bersarungkan emas yang mungkin sangat besar pengaruhnya bagi orang yang mempercayainya dan mengagungkannya tapi itu bagi mereka yang beragama diluar agama Islam. Padahal benda tersebut adalah buatan manusia. Tapi bagi orang-orang muslim yang beragama Islam benda tersebut merupakan benda mati buatan manusia yang tidak perlu disanjung dan dipuja-puja”

Setelah melihat kenyataan yang ada dihadapannya serta melihat dengan mata kepala sendiri kesaktian gurunya yang tidak terpengaruh oleh kesaktian keris pusaka tersebut Pangeran Kebo Gadung diam seribu basa dan merasa malu.

Rama Buyut Dalem Tapa selanjutnya memberikan wejangan-wejangan kepada Pangeran Kebo Gadung dan setelah memberikan wejangan-wejangan Rama Buyut Dalem Tapa kemudian membaca dua kalimat syahadat. Tiba-tiba terdengar suara menggelegar dan bersamaan dengan suara menggelegar tersebut keris nagaraja itupun hilang lenyap bersama sarungnya ditelan bumi melesak kedalam tanah . Kemudian Rama Buyut Dalem Tapa berkata “Berilah tanda disini dimana lenyapnya keris tersebut dan janganlah engkau menjadi gusar dan kecewa pangeran karena benda itu tiada artinya dibanding dengan kekuasaan Allah SWT, kepada-Nya lah engkau berikan sanjungan dan puja puji dan hanya kepada-Nya pula engkau memohon pertolongan” setelah mendengarkan dan meresapi kata-kata petuah dari gurunya akhirnya Pangeran Kebo Gadung menyatakan masuk agama Islam dan bertekad akan menyebarkan agama Islam dengan rasa kekeluargaan. Aman damai dan bahagia.

Setelah kejadian itu mulailah mereka menyebarkan agama Islam dengan caranya masing-masing. Yang paling menarik adalah cara yang dilakukan oleh Ratu Ayu Dewi Rachmat yang dengan kecantikannya beliau memperlihatkan kebolehannya memikat orang tua dan muda dengan menari. Orang tua dan muda berduyun-duyun datang berkumpul untuk menyaksikan tariannya. Setelah orang-orang berkumpul beliau mulai menyampaikan khutbah dan mengajarkan dua kalimah syahadat serta isi yang terkandung di dalamnya.

Oleh karena cara beliau yang menarik dalam menyebarkan agama Islam banyak orang tertarik untuk masuk dan memeluk agama Islam dan dia mendapat julukan Buyut Ronggeng karena keahliannya dalam menari.

Selang beberapa waktu kemudian menikahlah Pangeran Kebo Gadung dengan adiknya Rama Buyut Dalem Tapa (Sang Ratu Tawang), selanjutnya mereka mendapat tugas untuk menyelesaikan persengketaan yang tengah terjadi saat itu antara Dipati Timbang Luhur dengan Dipati Ngawangga Ceungal, namum usaha mereka tidak berhasil untuk menyelesaikannya, kemudian Pangeran Kebo Gadung mencari akal untuk menghentikan pertikaian antara keduanya, pada tengah malam buta beliau membakar tunggul-tunggul pohon yang ada disekitar bukit itu ketika kedua belah pihak akan mulai menyerang untuk berperang.

Ketika kedua pasukan dari kedua belah pihak yang akan berperang melihat betapa terang benderangnya nyala api diatas bukit, mereka masing-masing sama berpikir menyangka musuh akan menyerang dengan kekuatan yang sangat besar, maka kedua belah pihak mengurungkan niatnya untuk menyerang dan kembali ke tempat masing-masing tidak berani untuk menyerang.

Akhirnya situasi menjadi aman dan peperangan dapat dicegah karena kepintaran akal dari Pangeran Kebo Gadung. Atas Keramatnya bukit tersebut, sejak saat itu bukit tersebut diberi nama Pasir Bentang dan karena kepintaran beliau maka Pangeran Kebo Gadung diberi gelar Pangeran Kebo Entang .

Beberapa Waktu kemudian dari hasil pernikahan Pangeran Kebo Entang dengan Sang Ratu Tawang lahirlah seorang putri yang diberi nama Nurisah yang mana kelak putri tersebut akan menjadi Kuwu (Kepala Desa) Pertama di Desa Koreak dan beliau dijodohkan dengan  Buyut Sengkala Sengkali asli keturunan penduduk desa koreak yang mana kebetulan pada waktu itu telah kedatangan penyebar agama islam dari Banten ahli Quro yang bernama Rama Eyang Syeh Achmad Yusuf.

Maka diresmikanlah nama Desa Koreak oleh Pangeran Kebo Entang yang mana maksudnya mengucapkan  Desa Quro, karena kurang paseh mengucapkannya sehingga terdengan Desa Koreak dan  banyak orang mengikuti ucapannya dengan mengatakan Koreak bukan Quro.

Desa Koreak sendiri mulai diresmikan tepatnya pada hari Selasa Pahing tanggal 23 Saeptember Tahun 856 H yang mana pada waktu itu letak Balai Desanya berada di Cibale (Lembah kaki Bukit Pasir Bentang).

Adapun sampai saat ini yang masih ada di Puncak Bukit Pasir Bentang sebagai bukti peninggalan dari Sejarah terjadinya Desa Koreak adalah  :

  1. 1 (satu) buah makam perkakas yang letaknya berada disebelah timur dari 5 makam penghuni bersejarah Desa Koreak.
  2. 5 Makan sesepuh Desa Koreak :
  1. Makam Rama Buyut Dalem Tapa.
  2. Makam Sang Ratu Tawang.
  3. Makam Pangeran Kebo Entang.
  4. Makam Sang Ratu Gadang.
  5. Makan Ratu Ayu Dewi Rachmat (Buyut Ronggeng).

Demikian Riwayat singkat Sejarah Desa Koreak ini disusun berdasarkan masukan dan arahan dari berbagai sumber yang ada di Desa Koreak. Mudah-mudahan dapat bermanfaat khusus bagi Warga Desa Koreak dan umumnya untuk semua Masyarakat Kabupaten Kuningan.

PENJELASAN GAMBAR :

  1. Warna Dasar Putih Lambang Kesucian
  2. 2 Pita Kanan dan Kiri Warna Kuning Lambang Kedamaian Untuk Menunjukan, Puluhan Hari ( 20 Hari )
  3. 3 Pita dibawah Warna Kuning Lambang Kedamaian, Untuk Menunjukan Satuan Hari (3 Hari)
  4. Sap – Sapan di Pasir Warna Putih Lambang Kesucian, Untuk Menunjukan Bulan Sapar.
  5. Roda Berputar 8 Warna Biru Lambang Samudra, Untuk Menunjukan Gelombang Sejarah Ratusan Tahun (800 Tahun)
  6. Bintang Sudut 5 Warna Kuning Lambang Cahaya, U9ntuk Menunjukan Sejarah Puluhan Tahun (50 Tahun)
  7. Sengkedan 6 Sap di Pasir Warna Putih Lambang Kesucian, Untuk Menunjukan Sejarah Satuan Tahun (6Tahun).
  8. Pasir Warna Hijau Lambang Kesuburan :
  • 0Nama BENTANG : Karena Dapat Mencegah Penyerbaun Malam Yang akan Dilaksanakan Oleh Pihak DIPATI TIMBANG LUHUR Ke Pihak DIPATI AWANGGA CENGAL
  • Tempat Penyimpanan Keris NAGARAJA
  • Pengesahan Desa KOREAK Pertama Tanggal 23  Sapar  856, Didirikannya Desa KOREAK di CIBALE Dengan Kuwu Pertamanya NURISAH (NUR  AISHA).
  1. PRASADJANING  NGAGESANG  Mengandung Makna POLA  HIDUP SEDERHANA

 

Letak Wilayah

Desa Koreak adalah merupakan salah satu desa dari sebelas desa se-Kecamatan Cigandamekar,  dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

  • Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Cirebon
  • Sebelah Timur bebatasan dengan Desa Jambugeulis
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Citapen
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Karangmuncang

 

Desa Koreak merupakan desa yang berada dalam wilayah Kecamatan Cigandamekar dengan luas wilayah 262,575 Ha yang terdiri dari :

  • Luas sawah 77,125 Ha
  • Luas permukiman 32,495 Ha
  • Luas perkebunan 50,565 Ha
  • Luas perkantoran 0,141 Ha
  • Luas prasarana umum lainnya 10,014 Ha
  • dan terdiri dari 4 (Empat) Dusun, 18 RT dan 9 RW.

Adapun jarak tempuh Orbitas wilayah ke pusat ibu kota, ke kecamatan 2 Km ke ibu kota kabupaten 28 Km dengan topologi daerah persawahan dan perbukitan dengan rata-rata ketinggian 400/450 M dari permukaan laut.

Administrasi dan Pemerintahan

Data Kependudukan

Keadaan penduduk berdasarkan data terakhir adalah 2.706  jiwa, untuk lebih jelasnya lihat tabel dibawah ini :

Tabel 1

Data Penduduk Tahun 2018

Sumber Data : Pemerintahan Desa Koreak

JUMLAH PENDUDUK

LAKI-LAKI

PEREMPUAN

TOTAL

1.343

1.363

2.706

Pembagian Wilayah

Desa Koreak Kecamatan Cigandamekar Kabupaten Kuningan terdiri dari 4 dusun, diataranya yaitu Dusun I, II , III dan Dusun IV yang masing-masing dusun dipimpin oleh seorang Kepala Dusun. Posisi Kadus menjadi posisi yang sangat strategis, seiring banyaknya limpahan tugas dari Kepala Desa.

Tabel 2

 Pembagian Wilayah

PEMBAGIAN WILAYAH (JUMLAH)

DUSUN

RW

RT

4

4

12